UJUNG GENTENG

Melihatnya lagi sekarang, adalah perasaan senang yang kemudian datang. 

Melihatnya lagi sekarang, adalah hanjakal, kenapa tidak segera aku ketik apa yang kami alami selama perjalanan menjadi sebuah catatan.

Melihatnya lagi sekarang, adalah jadi aja lupa. 

Tapi coba ya, aku ketik apa-apa yang masih hinggap di ingatanku kini:

1. Ini dilakukan di masa-masa aku cuti selama 2 minggu ketika bekerja (atau masih magang waktu itu ya?) di PT. Padjadjaran Mitra. Minggu pertama kugunakan untuk melakukan perjalanan ke Ujung Genteng ini bersama Ardi, Hasan, Irfan dan Riza. Minggu kedua kugunakan untuk apa yang menjadi tulisanku ke Jogja bersama Mukhlis, dan Ulo.

2. Dari perjalanan ini pertama kalinya aku mengenal apa itu Papalidan, atau dalam bahasa inggrisnya Hitchhike. Anjing edan memang kami semua waktu itu hahaha

3. Dimulai dengan saran Ardi yang "urang leumpang heula euy ka beulah ditu, bisi katingali bapa-na si Uwi". Berjalanlah kami menuju ke arah Pom Bensin di sekitar Padalarang ke arah Citatah, dengan upaya agar terhindar dari terlihat oleh calon mertuanya Ardi. Terhindar dari kemungkinan akan bangga mereka melihat calon menantunya sudah siap lillahita'ala mengikhlaskan jiwa dan raganya untuk perjalanan ini. Sayang sekali kalau dipikir-pikir. Hahahaha

4. Di Pom Bensin itu, kami yang entah bagaimana bisa, hanya Allah yang Maha Kuasa untuk mengizinkannya, mendapat izin dari supir truk untuk ikut menumpang di bak truknya, sampai ke daerah Cianjur.

5. Dari Cianjur ini, kami bergantian menumpang angkutan mulai dari mobil bak terbuka, truk, sampai berjalan kaki.

6. Perjalanan yang dimulai di pagi hari, mungkin sekitar jam 10 di Padalarang waktu itu, berhenti setelah gelap yang banyak nyamuk, sekitar jam 8 malam di sekitar Jampang Kulon atau Surade, aku lupa. Kami numpang menginap satu malam di salah satu masjid di sekitar sana.

7. Paginya entah bagaimana akhirnya tiba juga di pantai Ujung Genteng. Bertemu pak Ajo yang kelak menjadi penyelamat kami selama di sana. Karena malamnya kami menumpang menginap di saung miliknya. Juga selama di sana, karena betul-betul kondisi keuangan kami yang terbatas, bahkan untuk makanpun kami tidak bisa membeli, sehingga pak Ajo yang baik hati bersama keluarganya memberikan kami makanan yang aduh nikmat sekali rasanya. Saking lapar-lapar pisan, pisannya belum makan!

8. Dilanjut setelah pesan-pesan mengkerut ini

Sebelum berangkat :




Setelah hampir tiba di Ujung Genteng:




Jarak dari Padalarang ke Ujung Genteng yang dulu kami tidak cari, karena Internet belum semudah sekarang aksesnya atuh: 

Image

Komentar

Postingan Populer